LHOKSEUMAWE|BEURITA.Com- Rekrutmen calon karyawan PT MKP PT PLN NP Services PLTMG Arun di desa Meuria Paloh, Kecamatan Muara Satu, Lhokseumawe menuai protes. Warga yang anaknya terpilih saat tos (penarikan undian) di gampong kecewa karena nama yang lulus bukan berdasarkan urutan saat tos tetapi peserta lain yang berada diurutan cadangan.
Warga yang kecewa pada proses ini kepada media ini menyampaikan bahwa ada hal yang tidak beres dalam proses ini. Setelah pengumuman adiministrasi dan melihat tiga nama hasil tos tidak lulus para orang tua anak mencari akar masalahnya. Mereka mendapat kabar bahwa nama-nama hasil tos tidak dikirim ke perusahaan. Keuchik Meuria Paloh menurut mereka tidak transparan dan tidak mengirim nama-nama hasil tos ke perusahaan.
Kesimpulan ini disampaikan setelah mereka menanyakan langsung ke pihak perusahaan dan menelpon pihak kantor camat Muara Satu. Lalu bagaimana cerita awal mula kejadian ini, sumber itu menambahkan, pada tanggal 16 September 2025 Keuchik Meuria Paloh mengeluarkan pengumuman penjaringan calon tenaga kerja (Tarik Tos). Warga yang sudah melihat pengumuman dimaksud mendaftarkan diri terutama yang lulusan SMA, D3 dan S1 jurusan teknik. Khusus untuk lulusan SMA mereka ambil bagian karena dalam pengumuman terutama di poin empat disebutkan bahwa peserta dari SMA sederajat harus memiliki pengalaman sertifikat kompetensi minimal dua tahun. Hasil tos tersebut bagian dari pendataan awal dan nama yang terpilih melalui tos dikirim untuk mengikuti seleksi resmi. Aidil Fitiawal, Haris Fikra Maulana dan Dedek Susriadi yang terpilih dalam tos tidak bisa ikut ujian tulis karena nama mereka tidak keluar atau tidak lulus administrasi.
Baca Juga
Sumber itu menambahkan, pasca penarikan tos pihaknya menunggu kapan pengumuman serta bisa ikut seleksi ujian tulis. Waktu terus berjalan dan yang ditunggu tidak kunjung tiba sampai terakhir mereka mendengar sudah diumumkan. Lalu dalam pengumuman itu tidak ada tiga nama hasil tos untuk melanjutkan langkah ke ujian tulis. Orang tua dari peserta Tos menanyakan dan datang ke rumah keuchik, ia ingin mendapat informasi kenapa nama anak mereka tidak dikirim. Saat dirumah keuchik mereka berdialog dan keuchik mengatakan kalau nama itu sudah dikirim malalui online.
Ia tidak langsung percaya terhadap keterangan itu dan mencoba menggali informasi dari sumber lain. Mereka menanyakan langsung pada PT MKP dan diterima audiensi di luar kantor. Dalam dialog dengan bagian humas perusahaan didapat kabar bahwa mereka tidak punya kewenangan menjawab pertanyaan dari orang tua calon pekerja dimaksud.
Ibu dari seorang peserta Meutia kepada media ini kecewa pada keuchik Meuria Paloh. Ia menilai ada cacat proses dalam pengiriman nama-nama hasil tos. Berat dugaan nama-nama yang sudah ditos tidak dikirim atau terlambat dikirim sehingga mereka tidak bisa ikut ujian lanjutan. “Saya akan terus berjuang, kenapa yang sudah ditos tidak lulus lalu kenapa justru nama lain yang lulus,” katanya.
Ditanya apakah hal semacam ini pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya, Meutia menyampaikan dari informasi yang ia peroleh sudah sering terjadi hal semacam ini. Kalau tidak percaya coba tanya sama warga Meuria Paloh, katanya.
Membantah
Sementara itu dihubungi secara terpisah, Keuchik Meuria Paloh Wahidin SE Sy membantah keterangan Meutia dan kawan-kawan. Ia menjelaskan secara detil kronologi rekrutmen yang berujung pada pengiriman nama-nama ke pihak perusahaan.
Awalnya ujar keuchik, pihak perusahaan dan keuchik beberapa desa menggelar pertemuan di kantor camat. Saat ini pihak perusahaan menyampaikan rencana untuk menerima beberapa calon pekerja serta menyampaikan syarat yang harus dipenuhi. Saat itu ia menyampaiakan pandangan supaya lulusan SMA sederajat yang dibuktikan dengan sertifikat agar bisa mendaftar. Saran yang disampaikan diterima dan beberapa hari kemudian ia menggelar rapat di gampong dan menyampaikan hal itu.
Saat nama-nama akan ditos keuchik menyampaikan silakan ikut yang lulusan SMA asal ada sertifikat kompetensi. Saat itu tidak ada seorangpun yang punya sertifikat kecuali hanya tiga orang yaitu Aidil, Dedek dan Haris. Nama mereka kemudian dicatat sebagai pemenang tos serta dua nama cadangan lainnya yaitu Lukmanul Hakim (lulusan S1 Teknik), Muhammad Daini (S1 Teknik) dan M Muxalmina (D4 Teknik). “Nama Muxalmina tidak ikot tos dan ia jumpai saya setelah selesai acara dan menyatakan akan ikut mendaftar secara online. Ia melapor saya ikut dan mendaftar agar cukup kuota. Ia daftar secara online,” ujar Wahidin.
Peserta yang sudah terpilih secara tos ujar pak keuchik diharuskan untuk mendaftar secara online dengan menyertakan daftar riwayat hidup mereka. Dari sinilah akan dilihat sertifikat kompetensi yang dimiliki oleh lulusan SMA.
Ia memahami kekecewaan mereka dan ia tidak bisa berbuat banyak. Semua keputusan ada pihak perusahaan dan ia mengaku tidak marah apalagi pada orang tua yang anaknya tidak lulus. Begitupun kalau ada anggapan ada iming-iming menjual pekerjaan dimaksud ia membantah hal itu. “Jika na iming-iming kami dari desa meu publoe pekerjaan, nyan hana bang,” ujarnya melalui pesan whastapp, Jumat (10/10/2025).
Terhadap tiga nama lulusan SMA dan sudah ditos namun tidak lulus bukan berada dipihaknya tetapi di internal perusahaan. Begitupun tiga nama yang lulus yaitu Lukmanul Hakim (S1 Teknik), Muhammad Daini (S1 Teknik) dan M Muxalmina (D4 teknik) sudah sesuai persyaratan, katanya.
Terkait sertifikat kompetensi peserta dari lulusan SMA, informasi yang diperoleh menyebutkan bahwa Aidil berpangalaman kerja di welder dan KFC selama empat tahun, Dedek bersertifikat gardu induk dan Haris pernah kerja di PLN.


