ANGGOTA DPRA dari Fraksi Partai Demokrat menceritakan perjalanannya pasca banjir dan tanah longsor di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah dan Kabupaten Bener Meriah pulang ke Lhokseumawe.
Awalnya ia berangkat dari Lhokseumawe ke Takengon pada hari Selasa (25/11/2025) untuk suatu acara di tanah Gayo. Pada hari itu hujan sedang lebat-lebatnya dan selesai acara ia berencana pulang. Namun rencananya balek kanan tidak bisa dilakukan karena hujan terus mengguyur kota Takengon hingga Rabu (26/11/2025) dinihari.
Hasrat balek ke rumah bertemu keluarga tidak bisa terbendung, ia memutuskan pulang via Bener Meriah dibawah guyuran hujan. Tantawi memacu kendaraan roda empat dalam suasana hujan lebat dan gelapnya malam. Langkahnya terhenti sampai di kabupaten Baner Meriah yangh jaraknya dengan kota Takengon sekitar 30-50 kilometer.
Ia menginap semalam di Bener Meriah dan memutuskan pulang ke Lhokseumawe keesokan harinya. Setelah dua hari menempuh perjalanan ia pada akhirnya hari Sabtu (28/11/2025) sekitar pukul 14.00 WIB kembali berkumpul bersama keluarga di Perumahan Bukit Panggoi Indah, Kecamatan Muara Dua, Lhokseumawe.
Baca juga:Jeritan Korban Banjir: Mie Intan Hanya Tahan Malam Ini
Ini cerita Tantawi yang juga Ketua PMI Aceh Utara kepada Acehherald.Com.
Jalan KKA ke Aceh Tengah lumpuh total. Kemarin saya jalan melalui Takengon-Bener Meriah ke Buntul melalui Simpang Tiga. Ke Buntul melewati jalan kampung sekitar lima jam perjalanan naik mobil. Setiba di Buntul maka saya melihat jembatan dan jalan semuanya ambruk terbawa arus banjir, badan jalan ditutupi longsor yang tinggi dan panjang di setiap tebing.
Saya berjalan kaki dua hari dan melihat kondisi di lokasi banyak warga Aceh Tengah dan Bener Meriah turun ke Lhokseumawe. Mereka ingin melihat anaknya yang kuliah maupun yang berada di pesantren yang ada di Lhokseumawe dan Aceh Utara. Mereka khawatir karena selama ini tidak bisa menerima informasi situasi dia Lhokseumawe.
Saya memperkirakan jika ada penanganan langsung 30 hari baru bisa dilalui mobil secara darurat. Bagi warga yang ingin berpergian ke Aceh Tengah dan sebaliknya dihimbau pergi dengan berjalan kaki, karena belum memungkin dengan mobil dan sepada motor.
Saya berjalan kaki dari Buntul ke Gunung Salak bersama rombongan dari Lhokseumawe dan dari Gayo, setiba di kilometer 32 kami baru bisa menumpang sepada motor warga. Ia bersama rombongan menempuh rute puluhan kilometer sehingga sampai di Kecamatan Nisam Antara, Kabupaten Aceh Utara.
Kondisi ini merupakan bencana banjir besar yang belum pernah terjadi sebelumnya dan merusak hampir semua jembatan dan longsor yang sangat parah, saya berharap kepada pemerintah pusat agar musibah ini dijadikan status bencana nasional, agar bisa cepat tertangani.



