LHOKSEUMAWE|BEURITA.Com- Pemerintah kota Lhokseumawe terus menekan penurunan persentase angka stunting. Tahun 2022 tercatat 28,1 persen, tahun 2023 sebanyak 20,7 persen dan tahun 2024 turun menjadi 17,4 persen. Berdasarkan data bulan Maret 2025 terdapat 664 balita stunting atau 4,76 persen menurun dari periode sebelumnya sebanyak 688 jiwa atau 4,75 persen.
Angka ini mengemuka dalam Rapat Koordinasi (Rakor) Tim Percepatan Penurunan Stunting Kota Lhokseumawe Tahun 2025 yang digelar oleh DP3AP2KB. Wakil Walikota Lhokseumawe Husaini, S.E, Rabu (5/11/2025) di Aula Kantor Walikota menyampaikan tentang kemajuan penurunan angka stunting.
Baca juga:Kemendukbangga Gelar Program Bangga Kencana
Didepan Kepala BKKBN Provinsi Aceh Safrina Salim, S.K.M M.Kes, narasumber Prof Mawardati, wakil walikota meneguhkan komitmen Pemko untuk terus menekan angka stunting. Bentuk dari keseriusan ini diwujudkan dalam bentuk tandatangan komitmen bersama percepatan penurunan angka stunting terintegritas.
Baca Juga
Husaini SE menegaskan, stunting merupakan persoalan serius nasional yang berdampak langsung pada pembangunan sumber daya manusia, sehingga harus ditangani secara terpadu, terukur, dan berkelanjutan. “Tantangan ini harus kita hadapi dengan kerja nyata, kerja cerdas, serta kerja kolaboratif dari semua pihak, masyarakat, swasta, perguruan tinggi, dunia usaha, dan lembaga non pemerintah. Tujuannya agar kita dapat membangun generasi masa depan yang unggul, berdaya saing, dan berkualitas,” ujarnya.
Ia menekankan pentingnya sinergi lintas sektor dalam mendukung gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting (GENTING). Mantan Ketua Partai Aceh Lhokseumawe menginstruksikan kepada seluruh kepala OPD untuk menjadi bapak/bunda Asuh minimal bagi dua balita stunting, serta mengajak BUMN, BUMD, perbankan, akademisi, lembaga sosial, dan media untuk turut berperan aktif dalam gerakan tersebut. “Pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri. Diperlukan kolaborasi dan dukungan dari semua pihak agar program percepatan penurunan stunting dapat berjalan efektif dan berkelanjutan,” tegas Husaini.
Baca juga:DPMG Lhokseumawe Bahas Penurunan Stunting
Sementara itu Kadis DP3AP2KB Lhokseumawe Salahuddin SST MSM menambahkan, berdasarkan data yang dipaparkan, angka prevalensi stunting di Kota Lhokseumawe terus menunjukkan tren penurunan yang menggembirakan. Tahun 2022: 28,1% (SSGI), tahun 2023: 20,7% (SKI), tahun 2024: 17,4% (SKI). Lalu berdasarkan data E-PPGBM Maret 2025: terdapat 664 balita stunting atau 4,76%, menurun dari periode sebelumnya sebanyak 688 jiwa (4,75%). “Capaian ini menjadi bukti nyata komitmen Pemerintah Kota Lhokseumawe dalam mengawal program percepatan penurunan angka stunting di daerah,” katanya.
Selain itu ujar Salahuddin, Pemko Lhokseumawe juga telah melaksanakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), salah satu program prioritas nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Program ini telah menjangkau 39.421 penerima manfaat, dengan 13 SPPG yang beroperasi di 9 gampong, serta sasaran utama sebanyak 17.172 jiwa, terdiri dari balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. “Program MBG menjadi bagian penting dalam pemenuhan gizi masyarakat dan sejalan dengan upaya mempercepat penurunan angka stunting di Kota Lhokseumawe,” katanya.


