LHOKSEUMAWE|BEURITA.Com-Banjir yang melanda kota Lhokseumawe pada tanggal 26 November 2025 lalu merupakan banjir terparah. Buktinya mayoritas desa di Kecamatan Blang Mangat, Muara Dua, Banda Sakti dan Muara Satu terendam. Malah pasca 10 hari banjir wilayah pedalaman Lhokseumawe yang paling parah terendam adalah di Desa Ujong Pacu dan Cot Trieng, Kecamatan Muara Satu.
Media ini mencatat gerakan cepat (Gercep) walikota Sayuti Abubakar dan Wakil Walikota Husaini merespon laporan terkait imbas banjir mulai tanggal 25 November-7 Desember 2025. Awalnya sebelum genangan besar merendam Lhokseumawe ia melihat dan merespon tanah longsor yang terjadi di Desa Panggoi, kemudian di Blang Pohroh dan beberapa tempat. Kemudian pada hari yang sama ia datang ke Ulee Jalan, Kecamatan Banda Sakti mengantar bantuan untuk warga yang rumahnya terendam.
Baca juga:Sayuti Abubakar Melapor, Mendagri Minta Catatan Kebutuhan Korban Banjir
Kondisi Lhokseumawe pada waktu itu tambah memburuk apalagi hujan yang terus mengguyur. Ia terus bergerak memantau situasi dan mengantar bantuan. Kalau lokasi yang sulit ditembus ia menumpang trail yang di kendarai oleh Ny Yulinda. Suami isteri ini menerobos lokasi yang sulit dilalui mengantar bantuan dan melihat warga yang terdampak banjir.
Karena situasi terus memburuk ia menetapkan Lhokseumawe sebagai daerah status siaga bencana alam. SK ini dikeluarkan kerana kondisi banjir tambah parah di empat kecamatan serta longsor sudah terjadi. Ia memberitahukan tentang kondisi kekinian Lhokseumawe kepada masyarakat luas melalui live yang disiarkan oleh stasiun televisi nasional. Tidak hanya Lhokseumawe, ia juga mengambarkan secara umum kondisi Aceh saat hujan.
Ia terus memantau kondisi lapangan bersama kepala OPD dan warga sekitar. Saat Pasar Impres dan Pusong terendam dan lumpuh, pasokan barang dari Medan Sumatera Utara dan sayur-sayuran dari Takengon dan Bener Meriah terhenti akibat longsor. Saat itu suasana tidak menentu apalagi ada tengkulak yang sengaja menaikkan harga barang direspon cepat oleh Pemko.
Gerapan cepat dilakukan Sayuti Abubakar bersama forkopimda yang melarang pedagang menaikkan harga barang. Gerakan ini sangat bermakna sehingga kenaikan harga tidak terlalu mencolok apalagi kemudian ada tanggapan dari Ketua MPU Aceh Tgk Faisal Ali serta diperkuat dengan fatwa Majalis Permusyawaratan Ulama (MPU) Aceh Nomor 30 tahun 2015 tentang Penentuan dan Pengawasan Harga Barang dan Pemerintah Menurut Perspektif Islam.
Menurut MPU, penetapan harga barang dan jasa oleh pemerintah dalam situasi darurat hukumnya wajib, termasuk intervensi terhadap kelangkaan bahan pokok dan barang strategis yang dibutuhkan masyarakat.
Situasi waktu itu bukan hanya kelangkaan bahan pokok. Efek lain yang muncul adalah kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di sejumlah SPBU. Antrean panjang tidak terhindarkan, untuk tiga liter minyak harus mengantri sekitar dua sampai tiga jam.
Baca juga:Sayuti Abubakar: Barkode BBM Dihapus, SPBU Dihidup 24 Jam
Dalam kondisi ini Sayuti Abubakar bergerak cepat (bagah) menjumpai Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Bandara Malikussaleh. Singgahnya Ketua DPP Partai Golkar ini digunakan walikota menyampaikan informasi kekinian tentang Lhokseumawe terutama BBM langka dan listrik padam. Ia minta supaya BBM tersedia di SPBU Lhokseumawe, warga tidak usah lagi menggunakan barkode dan pelayanan SPBU selama 24 jam. Gayung bersambut, aspirasi walikota diterima oleh Bahlil dan waktu itu pengendara mobil tidak perlu lagi menggunakan barkode. “Saya buktikan malam itu dan memang tidak lagi menggunakan barkode,” ujar seorang warga.
Laporan terhadap kerusakan beberapa tempat pelayanan publik dan keadaan gampong disampaikan Sayuti Abubakar kepada Mendagri Tito Karnavian. Ia juga memperkuat laporan baik secara langsung maupun melalu sambungan telepon genggam.
Sayuti tidak sendiri, advokat ini tidak berhenti. Ia bersama Wakil Walikota Husaini SE, Sekda A Haris, Asisten M Maxalmina, Bukhari, dr Sayed Alam dan kepala OPD memimpin langsung pendistribusian logistik. Bagi wilayah yang tidak parah banjir malka bisa langsung mengambil logistik di kantor walikota dan kalau wilayahnya parah maka ia bersama Yulinda mengantar bantuan tersebut.
Tugas Sayuti Abubakar dalam menjangkau korban banjir diback up oleh pihak kepolisian Lhokseumawe, TNI dari Kodim Aceh Utara, BPBD dan relawan. Mereka bahu membahu meringankan derita warga dan mencatat kerugian yang menimpa rumah dan tempat usahanya.
Sampai hari ke 14 pasca banjir laki-laki kelahiran Desa Linggong, Matang Glumpang Dua, Kabupaten Bireuen tidak berhenti. Ia terus bergerak melihat kondisi masyarakat panca banjir serta memberi semangat kepada mereka. “Alhamdulilah pak wali sangat responsif dan kami merasakan sendiri,” ujar Haikal dari Muara Satu.
Catatan yang disajikan dalam tulisan ini hanya sebagian kecil saja gerakan walikota, wakil walikota, asisten, kepala OPD dan ketua PKK selama banjir. Tentu ada puluhan gerakan lain yang luput dari catatan ini yang tentunya meringankan beban warga.



